511 titik panas terpantau di wilayah Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat, berdasarkan data pantauan hotspot CPM dari satelit Kregoy ID pada tanggal 06 Oktober 2026.
Hal itu diungkapkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kaimana, Jemes Frederik Wihiawary saat dikonfirmasi papuakini.net di ruang kerjanya, Rabu 07 Oktober 2026.
511 titik api tersebut tersebar di wilayah Distrik Teluk Arguni Atas, Teluk Arguni Bawah, Buruway, Kambrauw, Yamor dan Kaimana,”
Kepala BMKG Stasiun Kaimana menjelaskan titik panas tersebut dibagi dalam tiga kategori, yakni ketegori tinggi 25 titik, kategori sedang 472 titik dan kategori rendah 14 titik.
Data hotspot sebutnya diperbarui setiap hari dan telah dilaporkan secara rutin ke Pemerintah Kabupaten Kaimana, Kepolisian, dan Satgas Penanggulangan Bencana untuk ditindaklanjuti dalam upaya pemadaman.
Pria asal Serui ini menyatakan banyaknya titik api jadi pemicu kabut asap yang menyelimuti Kaimana, di mana saat ini jarak pandang hanya sekitar 3 kilometer.
“Apalagi Kaimana berada di daerah leher Papua Barat, berdekatan dengan Fakfak dan Teluk Bintuni yang juga terjadi kebakaran,” ujar Jemes Frederik Wihiawary.
Terkait musim, Kepala BMKG Stasiun Kaimana menjelaskan, periode September hingga pertengahan Oktober masih merupakan masa pancaroba peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
“Akhir Oktober 2026 ini akan memasuki musim hujan tapi masih di bawah normal. Bulan November sudah normal, Desember, Januari dan Februari di atas normal,” jelas Jemes Frederik Wihiawary.
Kepala BMKG Stasiun Kaimana kemudian mengimbau seluruh masyarakat Kaimana agar tidak membuka lahan kebun dengan cara membakar agar dapat mengurangi dampak kabut asap di daerah.
“Kami dari BMKG mengimbau masyarakat yang berladang untuk memperhatikan informasi cuaca dan tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, karena dapat memicu kebakaran yang lebih luas,” pesan Jemes Frederik Wihiawary. (yos)



