Papua Barat Lakukan Modifikasi Cuaca Atasi Kabut Asap

Pemerintah Provinsi Papua Barat untuk pertama kalinya melakukan operasi modifikasi cuaca untuk menangani dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Operasi ini dilakukan dengan dukungan BMKG dan pihak-pihak terkait dari Bandara Rendani, Manokwari, Rabu 14 Oktober 2026.

Menurut Gubernur Papua Barat, pesawat yang membahas bahan modifikasi cuaca itu akan terbang selama dua jam di angkasa tujuh kabupaten di Papua Barat, khususnya Manokwari, Kaimana, Fakfak, dan Teluk Bintuni.

“Terima kasih atas dukungan bp dan SKK Migas dalam operasi modifikasi cuaca untuk menangngani kabut asap ini,” ujar Dominggus Mandacan.

Gubernur Papua Barat berharap kabut asap di Papua Barat bisa mereda, bahkan hilang, beberapa hari setelah operasi modifikasi cuaca ini dilakukan.

“Dengan demikian kondisi bisa kembali normal, termasuk masuknya kembali pesawat-pesawat terbang,” beber Dominggus Mandacan.

Pesawat pembawa bahan operasi modifikasi cuaca ini dijadwalkan mendarat di Manokwari pada Selasa 13 Oktober 2026, tapi baru berhasil landing Rabu 14 Oktober 2026 pagi tadi.

Metode yang umum dilakukan dalam operasi modifikasi cuaca adalah cloud seeding atau penyemaian awan. Metode ini dilaksanakan dengan menaburkan garam di atas awan, sesuai koordinat yang telah ditentukan.

Saat udara naik ke atmosfer, uap air mulai berkumpul membentuk awan. Dalam kondisi alami, hujan turun ketika tetesan air dalam awan sudah cukup berat. Garam dipakai untuk mempercepat proses kondensasi dalam awan agar hujan turun lebih cepat. (an/dixie)

Previous articleJarak Pandang Cuma 500-700 Meter, Jemaah Umrah Kaimana Batal Terbang