Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat sukses menggelar Seminar Nasional dan Babak Puncak Lomba Karya Tulis Rekomendatif (LKTR) dalam perhelatan Pekan Perekonomian Daerah Papua Barat (Papedanomics) 2026 pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Manokwari.
Kegiatan bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat, Universitas Papua (UNIPA), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Papua Barat, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu mengusung tema “Hilirisasi sebagai Akselerator Transformasi Perekonomian Papua serta Penopang Stabilitas Inflasi Daerah.”
Melalui Papedanomics 2026, Bank Indonesia berkomitmen terus memperkuat wadah kolaborasi riset dan kebijakan ini sebagai agenda flagship tahunan demi mencetak gagasan unggul bagi kemajuan ekonomi Papua Barat yang inklusif dan berkelanjutan.
Acara yang dibuka Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani SH MSi, itu menghadirkan pakar ekonomi dan keuangan nasional, Mirza Adityaswara SE MAppFin, sebagai narasumber utama.
Siaran pers Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat menyebutkan forum tahunan ini memadukan adu gagasan riset aplikatif dari para peneliti muda dengan dialog kebijakan strategis guna merumuskan terobosan konkret dalam memperkuat struktur ekonomi di Tanah Papua.

Kompetisi bergengsi ini menguji gagasan finalis di hadapan dewan juri ahli seperti Kepala LPEM-FEB UI, Chaikal Nuryakin PhD, Manager Madya Bidang PEPK OJK Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya, Stella Matitaputty SE MPd CFP, dan Ketua Jurusan Manajemen FEB UNIPA, Dr Rintar Agus Simatupang SE MSc.
Kompetisi ini terbagi dalam Kategori Umum Nasional (kebijakan makro, investasi, rantai pasok) dan Kategori Mahasiswa Papua (optimalisasi komoditas lokal dan pemberdayaan UMKM).
Puncak acara juga ditandai dengan penganugerahan juara sekaligus pemaparan langsung rekomendasi terbaik di hadapan pimpinan daerah dan pemangku kepentingan.
Sebagai pilar utama penjaringan inovasi daerah, penyelenggaraan LKTR Papedanomics 2026 mencatatkan antusiasme riset yang sangat tinggi dengan masuknya 423 karya tulis dari kalangan akademisi, peneliti, dan mahasiswa di seluruh Indonesia.
Mengedepankan rekomendasi kebijakan praktis, para peserta melalui kurasi ketat serta pembekalan matrikulasi metodologi dan data bersama UNIPA, BPS Papua Barat, dan Biro Perekonomian Setda Papua Barat.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, Setian, menyatakan stabilitas makroekonomi daerah harus dijadikan pijakan untuk melompat menuju transformasi struktural yang lebih produktif dan bernilai tambah tinggi.
Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Bank Indonesia tahun 2026 serta semangat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025, yakni “Tangguh dan Mandiri: Sinergi Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Lebih Tinggi dan Berdaya Tahan.”
“Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Papua Barat mencapai 6,46% (ctc) dengan inflasi yang terjaga di level 2,59% (yoy). Namun, ketergantungan pada sektor ekstraktif mentah dan tantangan konektivitas masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Hilirisasi komoditas unggulan memegang peran ganda (multiplier effect): tidak hanya mengakselerasi pertumbuhan bernilai tambah dan membuka lapangan kerja, tetapi juga memperkuat ketahanan pasokan logistik pangan guna menjaga stabilitas harga di Papua secara berkelanjutan,” ujar Setian.
Forum ini turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda Papua Barat, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Papua Dr Simson Werimon SE MSi, pimpinan instansi vertikal, perbankan, pimpinan OPD, dan sivitas akademika. (*)




