Kabupaten Mansel (Manokwari Selatan), Papua Barat, memiliki potensi besar dalam hal perhutanan sosial.
“Salah satunya Hutan Desa Yarmatum yang membuktikan bahwa perhutanan sosial mampu menggerakkan ekonomi tapak secara profesional melalui pelepasan kulit masohi,” ujar Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat, Jimmy Walter Susanto.
Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat mengatakan ini dalam pelepasan perdana pengiriman kulit kayu masohi kering oleh Gubernur Papua Barat, Drs Dominggus Mandacan MSi, di Kampung Sabri, Distrik Ransiki, Kabupaten, Manokwari Selatan, Kamis 02 April 2026.
Perhutanan sosial Yarmatum juga berpotensi mengembangkan produk hasil hutan bukan kayu (HHBK) lainnya, seperti kulit lawa, yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat lalu menyatakan ada 15 kelompok perhutanan sosial di Manokwari Selatan. Kelompok-kelompok tersebut sudah mengantongi izin dari Menteri Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial.
Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat kemudian mengatakan tahun ini instansinya mendorong percepatan penetapan hutan adat marga Bokoma di Distrik Tahota, sebagai bentuk pengakuan terhadap wilayah adat.
Sejumlah potensi lain yang dapat dikembangkan adalah, antara lain, komoditas sagu pada kelompok perhutanan sosial Gaya Baru, damar atau kopal pada KPS Mambrema, serta potensi wisata lingkungan berupa pemandian air panas pada kelompok perhutanan sosial Gemini. (*)



