Pergantian pemimpin dan pengurus KONI Papua Barat dalam Musyawarah Luar Biasa (Muslub) harus dibarengi dengan pergantian cara kerja, agar KONI Papua Barat semakin maju.
“Kalau Musprov (maksudnya Muslub, Red) hanya menjadi pergantian kepengurusan tanpa perubahan cara kerja, maka kita akan terus berada di titik yang sama,” ujar Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah Pemilihan Papua Barat, Lamek Dowansiba, dalam keterangan tertulis yang diterima papuakini 01 April 2026.
Lamek Dowansiba menyatakan hingga saat ini capaian prestasi olahraga Papua Barat masih belum menunjukkan lonjakan signifikan lantaran pola pembinaan yang belum berjalan optimal, kepemimpinan yang cenderung mempertahankan pendekatan lama, serta fungsi pelayanan organisasi yang belum maksimal.
“Kita harus jujur, bahwa pola-pola lama yang selama ini dipakai belum cukup mampu menjawab tantangan olahraga modern. Dunia olahraga hari ini sudah berbasis data, sport science, dan manajemen profesional. Kalau kita masih bekerja dengan cara lama, hasilnya juga akan sama,” beber Lamek Dowansiba.
Lamek Dowansiba lalu menyatakan salah satu titik lemah yang perlu segera dibenahi adalah pembinaan atlet usia muda. Padahal, Papua Barat memiliki potensi besar yang tersebar hingga ke daerah-daerah, namun belum seluruhnya tersentuh oleh sistem pembinaan terstruktur dan berkelanjutan.
“Banyak talenta potensial di Papua Barat yang belum teridentifikasi, belum terfasilitasi, dan akhirnya tidak berkembang secara optimal. Kondisi ini membutuhkan kepemimpinan dengan perspektif baru, ang memahami pentingnya sistem pembinaan jangka panjang, pemanfaatan teknologi, serta pengelolaan organisasi yang transparan dan berbasis kinerja,” yakinnya.
Lamek Dowansiba kemudian mengatakan KONI ke depan tidak cukup hanya diisi oleh pengalaman, tetapi juga harus diisi oleh energi, kreativitas, dan keberanian untuk berinovasi. “Itu ada pada generasi muda,” katanya.
Terkait itu, Lamek Dowansiba mengingatkan para pemilik suara menjadikan Muslub sebagai ajang menentukan arah, bukan sekadar memilih figur.
“KONI ke depan butuh pemimpin yang dapat mendedikasikan dirinya secara total untuk membangun organisasi ini, memberikan pelayanan yang maksimal, sekaligus memiliki kapasitas mengelola sistem secara terukur dan profesional. Bukan hanya hadir saat event, tapi bekerja membangun proses,” tandas Lamek Dowansiba. (*)



