Bursa bakal calon Ketua KONI Papua Barat memanas seiring masuknya nama Prof Dr Roberth KR Hammar.
Pengusungan dirinya itu oleh sejumlah insan olahraga Papua Barat dinilainya bukan sebagai hal baru karena dia punya pengalaman panjang dalam memimpin berbagai organisasi sosial politik, seni budaya, dan profesi mulai dari tingkat kabupaten hingga nasional.
“Bagi saya, memimpin organisasi, termasuk menakhodai KONI Papua Barat, bukan hal yang baru. Saya telah melalui berbagai pengalaman kepemimpinan di banyak sektor dan level,” ujarnya.
Rekam jejak Roberth Hammar dalam bidang olahraga berderet. Dia pernah jadi Ketua KONI Kabupaten Manokwari, Ketua Komisi Kehormatan KONI Papua Barat pada masa kepemimpinan Gubernur Papua Barat (Alm) Abraham O Atururi, serta Ketua Pengurus Daerah Panahan Papua Barat yang berhasil menyumbangkan dua medali emas pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII di Kalimantan Timur.
Roberth Hammar juga pernah jadi Sekretaris Panitia Tinju, Ketua Panitia PORSENI Mahasiswa se-Tanah Papua, serta Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia Papua Barat.
Roberth Hammar menegaskan keinginannya untuk maju bukan berasal dari ambisi pribadi, melainkan dorongan kuat dari masyarakat olahraga itu sendiri. “Kalau ditanya apakah saya secara pribadi berkeinginan maju, jawabannya tidak. Tetapi jika insan olahraga menghendaki dan memberikan kepercayaan, maka saya siap. Sangat siap,” ungkap Roberth Hammar.
Roberth Hammar lalu menegaskan, jika diberikan amanah, akan melakukan reformasi sekaligus transformasi dalam sistem kerja KONI menuju pembinaan olahraga yang lebih profesional.
“KONI harus memberikan kepercayaan penuh kepada Pengda cabang olahraga, tetapi disertai dengan instrumen pengawasan teknis dan keuangan yang ketat. Dengan demikian, pembinaan atlet menjadi terukur, berkelanjutan, dan menghasilkan prestasi,” beber Roberth Hammar.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya reformasi manajemen atlet yang transparan dan berbasis sistem pembinaan jangka panjang. Menurutnya, prestasi olahraga tidak dapat dicapai secara instan, melainkan melalui proses bertahap, periodik, dan berkelanjutan yang berakar pada potensi putra-putri asli Papua Barat.
Roberth Hammar juga mengingatkan untuk menghindari pembelian atlet demi mengejar prestasi instan, karena tidak memberikan dampak positif terhadap ekosistem pembinaan olahraga daerah. (*)



