Kisah Anton Namsau: Garap Bisnis Pisang di Kaimana, Perputaran Uang Capai 1,3 M per Tahun

Di tengah dominasi pala sebagai komoditas unggulan, pisang mulai menunjukkan potensi ekonomi besar di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Pengusaha pisang asli Kaimana, Anton Namsau, menyebut perputaran uang dari pembelian pisang masyarakat mencapai sekitar Rp130 juta per bulan.

“Bayangkan kalau setahun, jumlahnya satu miliar lebih. Jadi, bagi saya, masyarakat harus bisa melihat peluang ini,” kata Anton kepada Papukini.net, Selasa 20 Oktober 2026.

Anton merintis usaha pisangnya sejak 2018. Ia membeli pisang langsung dari kebun warga, mulai dari kawasan Tanggaromi dan Wermura hingga Distrik Buruway, Kambrau, dan Teluk Arguni.

Pembelian dilakukan berdasarkan tandan. Anton membayar Rp50 ribu untuk satu tandan pisang. Jika ukuran pisang lebih kecil, dua tandan dapat dihitung sebagai satu tandan dengan harga yang sama.

Harga pisang jenis Raja dapat meningkat pada waktu tertentu. Menurut Anton, saat bulan puasa, harganya bisa mencapai Rp100 ribu per tandan.
Pisang dinilai memberi panen lebih rutin.

Anton menilai budidaya pisang berpotensi memberi pemasukan lebih rutin dibandingkan pala, karena masa panennya lebih sering.

“Kalau pala, dalam satu tahun kita tunggu panen hanya dua kali, jumlahnya sekitar 50 sampai 100 kilogram. Sementara pisang satu bulan dua kali panen. Kalau satu tahun, 24 kali panen,” ujarnya.

Ia memberikan gambaran potensi pendapatan dari lahan pisang. Jika satu hektare menghasilkan 400 tandan, dengan harga Rp50 ribu per tandan, nilai penjualan kotor dapat mencapai Rp20 juta dalam satu kali panen. Potensi itu bertambah seiring luas lahan dan hasil panen.

Saat ini, pisang yang dibeli Anton dipasarkan ke Timika. Pengiriman dilakukan dua kali setiap bulan menggunakan Kapal Sabuk Nusantara.

Namun, kapasitas angkut menjadi salah satu kendala. Anton mengatakan pihaknya terkadang kesulitan memperoleh ruang muatan karena kapal telah mengangkut barang dari pelabuhan-pelabuhan sebelumnya.

Anton juga menyebut pernah ada tawaran kerja sama dari pasar yang lebih besar. Namun, peluang tersebut membutuhkan pasokan dengan kualitas dan kuota yang stabil, sementara masyarakat Kaimana dinilai belum sepenuhnya siap memenuhi standar itu.

Usaha yang dibangun Anton telah memberikan manfaat bagi dirinya dan masyarakat. Ia mengatakan hasil usahanya digunakan untuk membangun gereja di Kampung Tanggaromi, membantu biaya pendidikan anak-anak hingga kuliah, serta mendukung anggota keluarga yang masuk TNI AD.

Anton kini memiliki tiga hektare kebun pisang dan sedang membuka satu hektare lahan tambahan. Jika rampung, luas kebunnya akan menjadi empat hektare.

Ke depan, dia berencana membentuk koperasi untuk mengelola kegiatan pembelian dan penjualan pisang di Kaimana. Koperasi itu diharapkan dapat membantu menghimpun pasokan warga dan mengembangkan pemasaran pisang lokal. (yos)

Previous articleBupati Kaimana Lantik 6 Kepala Distrik, Dua Perempuan
Next articleRakornis Kehutanan Papua Barat Evaluasi Program 2025–2026 dan Rencana Kerja 2027