Dinas Kehutanan Papua Barat menyiapkan 700 bibit matoa untuk ditanam di seluruh tujuh kabupaten. Anggaran pengadaan bibit itu berasal dari APBD 2026 Papua Barat melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)
RHL adalah upaya memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan serta lahan kritis guna meningkatkan daya dukung lingkungan, produktivitas tanah, dan sistem penyangga kehidupan. Program ini mencakup penanaman vegetatif, teknik konservasi air, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Penyebaran bibit ke seluruh tujuh kabupaten tersebut merupakan bagian dari gerakan penanaman sejuta matoa yang dicanangkan Gubernur Papua Barat, Drs Dominggus Mandacan MSi, dalam rangkaian peluncuran Interfaith Rainforest Initiave (IRI) Indonesia Chapter Papua Barat pada 14 Agustus 2026 .
Menurut Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat, Jimmy W Susanto SHut MP, perlu ada tambahan anggaran kegiatan tersebut di APBD Perubahan 2026 dan APBD 2027.
“Untuk perubahan, sesuai informasi kami ke Bapa Gub, perlu tambahan di perubahan, atau alokasi di tahun 2027, Rp3,5 M utk pengadaan bibit, dan untuk transportasi pengangkutan ke kabupaten dan biaya penanaman perlu sekitar Rp2 M,” ujar Jimmy W Susanto, Rabu 26 Agustus 2026 di Manokwari.
Kepala Dinas Kehutanan Papua Barat lalu menyatakan anggaran kegiatan ini juga diupayakan bisa terakomodir di APBN. “Selain dana APBD kami juga akan koordinasi dengan BPDAS (Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, red) Remu Ransiki untuk pengadaan lewat APBN,” beber Jimmy W Susanto.
BPDAS Remu Ransiki merupakan unit teknis Kementerian Kehutanan yang berkantor di Manokwari.
Selain itu, Kepala Dinas Papua Barat menyatakan ada dukungan dari mitra pemegang
Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), yang akan menyuplai bibit matoa dan membantu penanamannya.
“Untuk 1 jt pohon kami akan hitung dari data penanaman kami 5 tahun terakhir, dan akan dilanjutkan secara bertahap ke 1 juta pohon. Tentunya disesuaikan dengan keuangan daerah. Diharapkan sebelum masa kepemimpinan Bapa Gub 1 juta sudah bisa direalisasi,” tandas Jimmy W Susanto. (an/dixie)



