Pemkab Kaimana Tanggapi Serius Banjir di Esrotnamba

Belasan rumah penduduk di Kampung Esrotnamba Kabupaten Kaimana Papua Barat medio 2025 lalu terendam air danau yang meluap akibat hujan deras selama dua hari berturut-turut.

Selain merendam rumah penduduk, naiknya air danau juga menutupi perkebunan warga yang selama menjadi andalan mereka untuk bertahan hidup.

Akibat peristiwa ini, masyarakat terpaksa mengungsi ke beberapa rumah yang tidak terdampak sambil menunggu datangnya bantuan dari pemerintah daerah.

Bupati Kaimana, Drs Hasan Achmad kepada wartawan menyebut, pemerintah daerah telah merespon cepat dengan menyediakan berbagai bahan kebutuhan makanan yang diperlukan masyarakat termasuk bantuan tenda.

Pernyataan itu disampaikan Bupati Kaimana Hasan usai membuka TMMD ke 127 di lapangan Kodim 1804 Kaimana, Selasa 10 Februari 2026 lalu.

Bupati Kaimana juga menyebut dalam APBD tahun 2026 telah dialokasikan dana untuk pembangunan rumah sementara bagi masyarakat Kampung Esrotnamba.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kaimana, Hans Janes M Litaay, pada papuakini.net menyatakan ada 14 rumah warga yang terendam akibat luapan air danau.

“Warga mengungsi ke rumah-rumah yang tidak terendam disekitar danau,” jelas Litaay di ruang kerjanya, Kamis 12 Februari 2026.

Kepala BPBD Kaimana lalu menyuatakan saat itu kendala yang dihadapi masyarakat Esrotnamba adalah kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Pemerinah daerah sudah melakukan pengiriman bahan makanan melalui Kampung Warika.

“Kendala yang kita hadapi juga akses dari kota ke Kampung Esrotnamba. Kalau misalnya mau jalan dari Kampung Warika itu kurang lebih jalan kaki dua hari,” terang Hans Janes M Litaay.

Alternatif lain menuju ke Esrotnamba melalui jalur udara yaitu dengan menggunakan pesawat amfibi yang mendarat di Danau.

Ia mengakui jika selaku instansi teknis, pihaknya terus berkoordinasi dengan aparat kampung. Demikian juga dengan masyarakat yang proaktif untuk melaporkan kejadian yang terjadi walaupun kampung tersebut sangat jauh.

Kepala BPBD Kaimana juga menjelaskan fenomena alam ini sebenarnya sudah sering terjadi dalam kurun lima tahun, dan masyarakat setempat sudah terbiasa akan hal itu.

Masyarakat tidak bisa meninggalkan tempat tersebut karena mereka bercocok tanam di sekitar areal danau ketika air surut. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat kekurangan bahan makanan karena areal perkebunan sebagian besar terendam air.

“Kita upayakan tim BPBD bersama Dinas Perumahan dan Pertanahan ke sana untuk melihat apakah masih layak bagi masyarakat tinggal di areal danau, atau direlokasi ke tempat yang lebih tinggi atau lebih aman,” jelasnya.

Kepala BPD Kaimana lalu mengimbau kepada seluruh masyarakat Kaimana yang daerahnya beresiko terendam banjir agar dapat memperhatikan tanda-tanda alam jika terjadi hujan deras, serta tidak beraktivitas di daerah beresiko banjir.

“Apabila terjadi kejadian, segera melaporkan ke instansi teknis agar kami dapat mengambil langkah-langkah strategis,” pesannya. (yos)

Previous articleGubernur Papua Barat Tegaskan Satu Papua Dalam Pertemuan Gubernur se Tanah Papua,
Next articleGubernur Enam Provinsi se Tanah Papua Teken Kesepakatan Pembangunan Berkelanjutan