Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama para mitra nasional dan internasional menggelar rapat teknis persiapan pelaksanaan The 12th International Flora Malesiana Symposium (FM12) dan International Nature-Based Climate Solutions Conference (NBCS) yang akan dilaksanakan di Manokwari pada 9-14 Februari 2026.
Asisten III Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Otto Parorrongan SKM MKes, mewakili Gubernur Papua Barat, dalam rapat itu menegaskan penyelenggaraan kegiatan internasional ini merupakan kehormatan, sekaligus tanggung jawab besar bagi Provinsi Papua Barat, khususnya Manokwari sebagai tuan rumah.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak hanya diukur dari kelancaran pelaksanaan acara, tapi juga dari kenyamanan peserta, kualitas pelayanan, serta kesan positif yang ditinggalkan bagi para tamu dari berbagai negara.
“Kita ingin para peserta pulang dengan membawa cerita baik tentang Manokwari dan Papua Barat, tentang keramahan masyarakatnya, kesiapan penyelenggaraannya, dan profesionalisme pemerintah daerah,” tutur Otto Parorrongan.
Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas perangkat daerah dan mitra terkait, khususnya dalam hal akomodasi, transportasi, konsumsi, keamanan, dan layanan kesehatan, mengingat waktu pelaksanaan kegiatan yang semakin dekat.
Sementara itu, Ketua Bersama Panitia, Prof Dr Charlie D Heatubun SHut MSi FLS, menjelaskan Flora Malesiana Symposium merupakan forum ilmiah internasional yang telah berlangsung sejak tahun 1989, dan menjadi wadah utama bagi para ahli botani dunia untuk melaporkan perkembangan riset, sistematika tumbuhan, serta penemuan spesies baru di kawasan biogeografi Malesiana.
“Manokwari seharusnya menjadi tuan rumah pada tahun 2022, namun tertunda akibat pandemi COVID-19. Setelah mempertimbangkan berbagai aspek kesiapan dan arahan pimpinan daerah, pelaksanaan akhirnya ditetapkan pada Februari 2026,” jelas Prof Dr Charlie D Heatubun SHut MSi FLS,
Simposium kali ini diperkirakan akan diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai negara, yang terdiri atas peneliti, akademisi, mahasiswa, praktisi, dan pengambil kebijakan. Sejumlah pertemuan sebelumnya telah diselenggarakan di berbagai kota dunia seperti Yogyakarta, Bogor, Brunei Darussalam, Kuala Lumpur, Singapura, Sydney, Leiden, dan London.
Pelaksanaan FM12 tahun ini dirangkaikan dengan International Nature-Based Climate Solutions Conference, sebagai upaya menjembatani hasil riset ilmiah dengan implementasi kebijakan pembangunan dan solusi nyata dalam menghadapi perubahan iklim.
“Konferensi ini diharapkan mampu mendorong pemanfaatan solusi iklim berbasis alam, baik dalam konteks konservasi keanekaragaman hayati, pendanaan iklim, maupun dukungan terhadap kebijakan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, nasional, hingga global,” ungkap Prof Dr Charlie D Heatubun SHut MSi FLS.
Bakal ada sejumlah side event dalam kegiatan internasional ini seperti field trip ke sejumlah lokasi unggulan di Papua Barat, seperti Pegunungan Arfak dan Teluk Bintuni. Seluruh rangkaian kegiatan ini dikemas dalam satu kesatuan bertajuk Papua Biocultural and Climate Week.
“Kegiatan ini bukan hanya tentang forum ilmiah internasional, tetapi juga tentang bagaimana Papua Barat menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang baik serta berkontribusi nyata dalam isu global keanekaragaman hayati dan perubahan iklim,” beber Prof Dr Charlie D Heatubun SHut MSi FLS yan gjuga Kepala Brida Papua Barat. (*)



